Kebangsaan, Nasionalisme18 August , 2009 2:25 pm

Lagu ini memberi cerita tersendiri ketika saat itu berada di bawah sang merah putih …

Berkibarlah Bendera Negeriku
Berkibarlah Engkau di dadaku
Tunjukanlah Kepada Dunia
Semangatmu Yang Panas Mambara

Daku Ingin Jiwa Raga ini
Selaraskan Keanggunan
Daku Ingin Jemariku Ini
Menuliskan Kharismamu…

Berkibarlah Bendera Negeriku
Berkibar di Luas Nuansamu
Tunjukanlah Kepada Dunia
Ramah Tamah Budi Bahasamu

Daku Ingin Kepal Tangan Ini
Menunaikan Kewajiban
Putra Bangsa Yang Mengemban Cita
Hidup Dalam Kesatuan…

Download lagunya disini

Dan kemarin kiaran bendera dan nyanyian lagu ini mengumandang di depan rumah … bersama anak-anak kecil yang nampak riang … dan tetangga rumah, kita berdoa .. semoga INDONESIA menjadi lebih baik, aman .. tentram dan memiliki pemerintahan yang bersih yang memperhatikan rakyatnya. Kita boleh teriak .."MERDEKA" … tetapi mari kita buka mata kita, didepan mata masih banyak penindasan, didepan mata masih banyak ketidak adilan, di depan mata kita terinjak oleh kapitalis modern …

Merdeka memang harga yang mahal, merdeka adalah perjuangan yang tanpa akhir …

HUTRI

HUTRI

HUTRI

HUTRI

HUTRI

HUTRI

HUTRI

HUTRI

HUTRI

HUTRI

 

Kebangsaan, Nasionalisme27 November , 2008 12:01 pm

window

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia . Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change. Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. "Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta , Kamis (21/2). Situs berita Australia , The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO. "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport , dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya. Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku. "Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar," katanya. Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua. "Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush," ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini. Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyonoyang memintanya menarik buku dari peredaran. "Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia , sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran. Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu. Mengubah Kebijakan Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia. Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun. Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005. Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung. "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi, " tulis The Economist. The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong? Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam . Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam , negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi. Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin. Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico , AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima . Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia? Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos , memujinya. Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia , yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia. Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

Kebangsaan, Nasionalisme21 October , 2008 5:28 pm

Masih ingat dengan 43 warga Papua yang melarikan diri dan meminta suaka ke negara tetangga Australia 3 tahun lalu, tepatnya akhir tahun 2005?. Ternyata dua diantaranya kembali ke tanah air, karena apa yang dialami di Australia tidak seperti yang dijanjikan sebelumnya. dari Merauke melaporkan, kedua peminta suaka ini telah tiba kembali ke tanah Air, kemarin. Yubel Kareni kembali ke Serui tempat asalnya dan Hana Gobay kembali ke Merauke. Keduanya diantar langsung oleh Konsul for Economic Affairs Kedubes Indonesia untuk Australia di Canberra, Jahar Gultom, Rabu ( 24/9) pagi kemarin, dengan menggunakan pesawat penerbangan komersial Merpati Aoba dari Jakarta. Yubel Kareni turun di Bandara Kaisiepo Biak untuk melanjutkan perjalannya ke Serui, sedangkan Hana Gobay turun di Bandara Mopah Merauke sekitar pukul 09.30 WIT.


welcome backSebelum pesawat mendarat di Bandara Mopah Merauke, keluarga Hana Gobay yang terdiri dari ayah ibunya, Alfons Gobay-Blastina Gobay, pamannya Haryanto Gobay, kakak kandungnya Maria Gobay dan Sopiah Dokopiah adik kandung dari ibu Hana Gobay sudah menunggu kedatangannya di Bandara Mopah Merauke.
Saat turun dari anak tangga pesawat, Hana Gobay yang mengenakan asesoris serba hitam, topi hitam, kaca mata hitam, jaket kaos warna hitam, celana hitam dan sepatu hak tinggi warna hitam, langsung disambut pelukan ibu dan kakak perempuannya Blastina Gobay-Maria Gobay dan tantenya Sopiah Dokopiah.
selanjutnya …

Kebangsaan, Nasionalisme17 October , 2008 1:28 pm

beuaty of papuaLima orang ditahan di Nabire, Timika, Irian Jaya Barat, karena mengibarkan bendera Bintang Kejora milik Organisasi Papua Merdeka OPM. Kepada kantor berita AFP, Rianto Jatmono, kepala kepolisian resor Nabire mengatakan kelima orang itu diperiksa polisi. Kalau terbukti mengibarkan bendera mereka akan dijerat pasal makar terhadap negara. Menurut Frits Ramandey, ketua Komnas HAM Papua, pengibaran bendera Bintang Kejora itu selain merupakan protes juga berkaitan dengan agenda tertentu. Agenda apa yang berkait dengan pengibaran di Nabire? Lebih lanjut berikut Frits Ramandey, ketua Komnas HAM Papua. 
selanjutnya …

Kebangsaan, Nasionalisme27 September , 2008 1:52 am

Sengketa atau saling mengklaim kepemilikan Pulau Berhala antara Provinsi Jambi dan Kepulauan Riau (Kepri) sejak tahun 1980-an segera dituntaskan sehingga tidak berlarut-larut. "Tim kecil yang dibentuk Pemprov Jambi segera bertemu dengan tim Kepri dalam waktu dekat untuk mencari solusi terbaik. Saya sudah menelepon Gubernur Kepri Bapak Ismet Abdullah. Beliau setuju bertemu kedua belah pihak," kata Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin di Jakarta, Selasa (29/7).

berhala 

Hal itu diungkapkan Zulkifli Nurdin kepada wartawan setelah menghadiri pembukaan "Jambi Expo" 2008 di Senayan City yang dibuka oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto. Ia menjelaskan, Pulau Berhala yang berjarak sekitar 12 mil dari pantai Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Provinsi Jambi kini dalam status quo atau diambil alih pemerintah pusat sampai ada penyelesaian atau status jelas kepemilikan pulau tersebut milik Jambi atau Kepri. Meski persoalan sengketa Pulau Berhala seluas lebih kurang 200 hektare berada di Selat Berhala dan gugusan Laut China Selatan itu telah dipasilitasi pemerintah pusat (Depdagri dan DPR RI) dalam lima tahun terakhir ini, namun belum ada penyelesaian. "Kita tak mau berlarut-larut dalam persoalan Pulau Berhala itu. Sedapat mungkin persoalannya diselesaikan sesuai arahan pemerintah pusat," tegasnya.

Jambi tetap mempertahankan Pulau Berhala karena memiliki bukti-bukti yang cukup kuat dari historis sejarah masa Kerajaan Jambi abad ke XII serta menjadi tempat pemakaman Datuk Paduko Berhala yang menjadi Raja Jambi pertama memimpin Kerajaan Jambi. Selain itu dari letak geografis yang relatif dekat ke wilayah Jambi (Kab. Tanjung Jabung Timur), serta diperkuat lahirnya UU No 58/1999 tentang pembentukan empat kabupaten pemekaran di Jambi yaitu Kab. Sarolangun, Tebo, Muaro Jambi, dan Tanjung Jabung Timur. Dalam UU tersebut Pulau Berhala yang berbatasan dengan Kepri masuk atau menjadi bagian wilayah Provinsi Jambi. "Atas dasar itu Jambi kian memperkuat keberadaan Pulau Berhala itu adalah milik rakyat Jambi," kata Zulkifli Nurdin.

Bagaimana pendapat yang lain … ???

Kebangsaan, Nasionalisme21 September , 2008 5:30 am

Melihat berita tentang tingkah laku wakil rakyat dan beberapa pejabat yang tertangkap tangan mengkhianati rakyat dalam bentuk Korupsi, suap sampai tindakan asusila, membuat saya sedikit miris dan takut dengan kualitas nilai kebangsaaan saat ini, bayangkan … mereka yang telah menerima amanah rakyat kini harus jatuh satu-satu dengan ke-egoannya, dan menunjukkan dirinya kalau hanya sebagai pecundang belaka.

Akankah nilai-nilai kebangsaan kita  memang telah mulai luntur dengan gemerlapan materi ..?? yang akhirnya semakin menenggelamkan rakyat pada kemiskinan, kebodohan, dan keterpecahan.. ?? Entah drama apalagi yang akan berlanjut …

Jika bangsa kita ini hancur karena harus berperang melawan kaum penjajah, mungkin orang masih akan mengangkat topi karena mereka menghargai kepatriotan kita. Tetapi jika bangsa ini hancur oleh kebodohan dan kerakusannya sendiri …, bangsa lainpun pasti akan tertawa dan mencibir akan rendahnya nilai kebangsaan kita.

pinisi indonesia 

Semestinya di usia yang ke 63, Indonesia harus semakin dewasa … dan Pancasila menjadi penyejuk yang kian terasa, kemakmuran menjadi bukti kerja keras yang panjang, …. kejujuran menjadi identitas kita yang semakin bermoral, dan … kita bisa belabuh bersama membawa perahu Indonesia ini di sebuah dermaga yang tenang …. di pulau harapan yang kita tuju selama ini.

Kebangsaan, Nasionalisme20 September , 2008 10:46 am

bangkit

Bangkit Itu… Susah

Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang

Bangkit itu… Takut
Takut Korupsi
Takut makan yang bukan haknya

Bangkit Itu… Mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan Prestasi

Bangkit itu… Marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu… Malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu

Bangkit itu… Tidak Ada
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa

Bangkit itu… Aku

"Untuk Indonesiaku" oleh : Dedy Mizwar

Kebangsaan, Nasionalisme9 September , 2008 4:27 am

Di sebuah sekolah publik di Pennsylvania terdapat papan tulis yang konon dibuat pada tahun 1840. Yang menarik tentu bukan papan tulisnya, melainkan plakat yang tertempel di atasnya. Plakat yang terbuat dari logam tersebut bertuliskan “If wisdom’s ways you would wisely seek, these five things observe with care: of whom you speak, to whom you speak, how, when, and where.

lady AJK

Sewaktu masih kuliah dulu, saya pernah berkonsultasi tentang hal sepele dengan seorang dosen yang juga businessman sukses. Di luar dugaan, beliau mendengarkan “keluhan tidak penting” saya dengan penuh atensi sembari menjaga kontak mata dan body language yang positif — seolah-olah saya orang yang mahapenting di matanya.

selanjutnya …

Kebangsaan, Nasionalisme5 September , 2008 5:12 am

Supaya tercapai suatu masyarakat yang berdasarkan keadilan dan kebenaran, haruslah rakyat insyaf akan haknya dan harga dirinya. Kemudian haruslah ia berhak menentukan nasibnya sendiri perihal bagaimana ia mesti hidup dan bergaul
-Mohammad Hatta-