Lima orang ditahan di Nabire, Timika, Irian Jaya Barat, karena mengibarkan bendera Bintang Kejora milik Organisasi Papua Merdeka OPM. Kepada kantor berita AFP, Rianto Jatmono, kepala kepolisian resor Nabire mengatakan kelima orang itu diperiksa polisi. Kalau terbukti mengibarkan bendera mereka akan dijerat pasal makar terhadap negara. Menurut Frits Ramandey, ketua Komnas HAM Papua, pengibaran bendera Bintang Kejora itu selain merupakan protes juga berkaitan dengan agenda tertentu. Agenda apa yang berkait dengan pengibaran di Nabire? Lebih lanjut berikut Frits Ramandey, ketua Komnas HAM Papua.
Frits Ramandey [FR]: Kalau bicara Bintang Kejora sebagai simbol negara Papua, kan di dalam otsus itu kan ada diatur sebuah lambang kultural. Nah, karena itu ada semangat Papua Merdeka tapi juga ada semangat lambang kultural. Nah, dalam konteks otonomi khusus memang harus secepatnya ada aturan yang mengatur simbol kultural itu. Apakah itu Bintang Kejora sebagai lambang kultural, kemudian lambang lain.
Ini harus ada sebuah pernyataan yang tegas. Sepanjang belum ada sebuah aturan tentang itu maka rakyat juga menganggap bahwa otsus lahir karena sebuah simbil kultural yaitu simbol rakyat Papua. Simbol pemersatu adalah bendera Bintang Kejora. Jadi masih ada dua semangat, yaitu semangat kultural dan semangat perjuangan Papua Merdeka begitu.
Radio Nederland Wereldomroep[RNW]: Tapi dalam kasus ini ya, apa yang ingin dicapai dengan pengibaran bendera Bintang Kejora ini?
Mengibarkan bendera
FR: Dalam beberapa kasus memang ketika masyarakat tidak puas, mereka mengibarkan bendera sebagai sebuah tanda protes, terhadap kebijakan pemerintah daerah dalam konteks otonomi khusus. Tapi di satu pihak pengibaran bendera Bintang Kejora itu selalu bersamaan dengan hari-hari penting. Misalnya 1 Desember sebagai hari kemerdekaan Papua. Atau 1 Juli sebagai hari berdirinya OPM.
Misalnya hari ini ada pengibaran di Nabire, di tiga tempat. Ini bersamaan dengan kegiatan di Inggris yang pembentukan kaukus Papua. Jadi pengibaran bendera ini juga dilakukan bersamaan dengan beberapa agenda. Selain agenda yang diyakini oleh masyarakat Papua sebagai agenda politik tapi di samping itu ada agenda respons solidaritas-solidaritas di masyarakat internasional tentang Papua.
RNW: Nah, apakah keinginan untuk berpisah ya, dari RI itu hanya datangnya dari kelompok tertentu misalnya OPM atau dari masyarakat Papua pada umumnya?
FR: Kalau kita bicara soal Papua Merdeka itu sebagai satu ideologi yang sudah tumbuh. Anda bisa menghitung misalnya dari tahun 1961 sampai sekarang itu kan sebuah ideologi yang masih tetap tumbuh dan subur. Nah, ini menunjukkan bahwa Papua Merdeka itu bukan kelompok orang. Semua orang Papua itu menghendaki Papua Merdeka. Sekarang sebagian orang yang ada di misalnya di lembaga legislatif, lembaga pemerintah mereka tidak menyatakan itu.
Perjuangan Papua
Tapi juga ada sebuah gejala baru misalnya militer membentuk kelompok-kelompok milisi, atau militer juga mulai melibatkan para tokoh-tokoh pejuang. Tapi secara politik perjuangan Papua Merdeka adalah sebuah perjuangan kebangsaan yang memang sulit hilang dari masyarakat Papua sebagai satu rakyat yang memang secara kultural memang mereka beda dari masyarakat Indonesia.
RNW: Mengekspresikan sesuatu ya, termasuk menaikkan bendera itu kan hak semua orang. Nah, bagaimana Anda mengomentari hal ini?
FR: Menaikkan bendera sebagai sebuah ekspresi kebebasan itu harus bisa dipisahkan dari menaikkan bendera dalam konteks kepentingan politik atau tujuan politik begitu. Nah, misalnya hari ini ada penaikan bendera di Nabire ini kan konteksnya jelas dalam rangka mengapresiasi sebuah kaukus yang terjadi di Inggris. Berarti itu dalam konteks perjuangan Papua Merdeka. Jadi mengekspresikan kebebasan kan tidak hanya dengan menaikkan bendera, tapi ada dengan protes-protes yang lain.
Dan perjuangan Papua Merdeka dalam konteks pengibaran bendera jelas. Sepanjang belum diatur dalam sebuah aturan tentang bendera Bintang Kejora maka menaikkan bendera Bintang Kejora adalah sebuah tanda perjuangan. Menunjukkan kepada pemerintah Indonesia bahwa Papua Merdeka bukan segelintir orang, tetapi itu adalah sebuah tujuan dan sebuah ideologi masyarakat Papua.
[sumber : http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/bendera_bintang_kejora20081015]


