Ekonomi pasar bebas telah gagal. Begitulah komentar berbagai kalangan merespons rontoknya Wall Street akibat kebangkrutan perusahaan finansial. Nama-nama besar seperti Lehman Brothers, American International Group (AIG), Merril Lynch, Goldman Sach sudah lempar handuk. Wall Street yang selama ini dikenal dunia sebagai simbol kedigdayaan ekonomi kapitalis dan suksesnya ekonomi pasar bebas, kini, tak berdaya.

wallstreet 

Tanpa bailout pemerintah, krisis keuangan yang menimpa Wall Street tidak hanya melumpuhkan ekonomi AS, juga menyeret ekonomi dunia ke dalam resesi. Kondisi ekonomi AS saat ini ditandai inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi yang melambat, angka pengangguran yang melonjak, serta defisit bujet dan defisit neraca pembayaran yang terus membengkak. Krisis subprime mortgage mengakibatkan ketatnya likuiditas dan bangkrutnya perusahaan yang bergerak di sektor keuangan, serta ambruknya harga saham dan surat utang di Wall Street. Inilah krisis keuangan paling besar setelah Great Depression pada 1929. Waktu itu, pasar modal ambruk. Bank investasi dan bank komersial bangkrut. Nasabah hanya bisa menarik separuh dananya dari bank. Perusahaan finansial di luar bank gulung tikar.

Perusahaan nonkeuangan sulit bertahan. Laju pertumbuhan ekonomi minus, inflasi melesat. Jumlah orang kaya dan kelas menengah menurun. Angka pengangguran membengkak. Akibat kebijakan yang kurang tepat, depresi ekonomi ini berlangsung hingga 1938. Guna mencegah AS terjerembab ke dalam Great Depression II, pemerintah dan bank sentral AS merencanakan bailout. Utang perusahaan finansial besar yang menjadi penggerak Wall Street diambil alih pemerintah dan kepada perusahaan itu disuntikkan dana segar agar bisa kembali beroperasi. Kebijakan yang masih menunggu persetujuan Kongres ini dinilai bertentangan dengan ideologi ekonomi pasar bebas yang menjadi pedoman AS berpuluh-puluh tahun. Kebijakan bailout menunjukkan bahwa ekonomi pasar bebas sudah gagal membawa kemakmuran dan mengawal American Dream. Amerika sebagai negara adidaya dan adikuasa yang disegani dunia sulit dipertahankan jika ekonomi mengalami kebangkrutan. Presiden George Bush dengan lantang mengumumkan, bahwa AS dalam bahaya yang jika tidak segera diselamatkan negara akan tenggelam dalam resesi ekonomi. Itu sebabnya, dua kandidat presiden AS, Barack Obama dari Demokrat dan John McCain dari Republik, mendukung upaya penyelamatan Wall Street. Keduanya menunda kampanye pilpres untuk ikut meyakinkan rakyat bahwa bailout penting bagi penyelamatan ekonomi AS. Bahwa bailout merupakan bagian dari upaya nyata safe the nation.

Kegagalan Pasar Bebas Kehancuran Wall Street menunjukkan bahwa ekonomi pasar bebas yang diagung-agungkan tidak mampu meningkatkan dan mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan yang sudah dicapai. Kehancuran Wall Street mengisyaratkan pentingnya peran pemerintah bahkan intervensi pemerintah. Dalam situasi seperti ini, bailout menjadi solusi tidak terelakkan. Karena bangkrutnya bank investasi, bank komersial, perusahaan asuransi, dan sebagian perusahaan yang tercatat di New York Stock Exchange (NYSE) akan menyeret ekonomi AS ke dalam resesi.

Jika terjadi resesi, masyarakat bawah juga akan terkena dampaknya. Kebangkrutan Wall Street merupakan satu dari sekian banyak contoh tentang tidak sempurnanya ekonomi pasar bebas. Dalam kenyataan, invisible hand yang membuat pasar bekerja efisien seperti disebutkan Adam Smith, penganjur ekonomi pasar bebas dalam The Wealth of Nation, tidak terbukti. Ketika terjadi asimetri informasi akibat penyebaran informasi yang tidak sempurna, pasar akan berjalan tidak efisien. Yang beruntung hanya segelintir orang yang mendapatkan terlebih dahulu informasi akurat. Kalangan pengelola perusahaan sekuritas di Wall Street dan di pasar modal mana pun umumnya mendapatkan terlebih dahulu informasi material ketimbang para investor yang dilayani. Peran ganda -sebagai pialang dan pedagang-acap membuat perusahaan sekuritas lebih mengutamakan portofolionya daripada melayani pesanan nasabah.

Manfaat pergerakan harga saham selalu dinikmati terlebih dahulu oleh perusahaan sekuritas. Berdasarkan hasil penelitiannya, Joseph E Stiglitz dalam Making Globalization Work (2006) menyatakan, informasi takkan pernah menyebar dengan sempurna, dan pasar takkan selalu berjalan sempurna. Peraih Nobel Ekonomi 2001 itu yakin, tanpa intervensi pemerintah, adanya regulasi atau perangkat hukum yang baik, dan pengawasan yang ketat, pasar akan mengarah pada inefisiensi. Dalam bukunya, The Roaring Nineties (2003), Stiglitz mengkritik para akuntan dan CEO bank investasi yang tidak bekerja efisien. Selain melakukan kesalahan alokasi, mereka juga menggelembungkan aset. Cepat atau lambat, gelembung itu akan pecah dan terjadilah resesi ekonomi. Gelembung finansial itu kini pecah. Peringatan Stiglitz pun terbukti. Investasi yang berlebihan pada produk derivatif membuat perusahaan finansial kolaps. Gejolak harga minyak serta berbagai komoditas pertambangan dan perkebunan dipicu ulah perusahaan finansial. Harga pasar tak lagi merujuk pada nilai fisik barang, melainkan pada harga akan datang yang memang sarat spekulasi. Berkat penggelembungan aset dan kepiawaian meyakinkan nasabah, berbagai perusahaan investasi berhasil menghimpun dana dalam jumlah besar.

Dengan dana kelolaan yang besar, para CEO dan profesional di Wall Street memperoleh gaji sangat tinggi. Keadaan itulah yang membuat paket penyelamatan senilai US$ 700 miliar tidak segera mendapat persetujuan Kongres. Rakyat AS tidak rela pajak yang mereka bayar digunakan untuk mensubsidi para CEO di Wall Street, yang selama ini hidup bergelimang uang dan bergaya hidup tinggi. Salah satu syarat yang diajukan Kongres atas proposal pemerintah adalah pemangkasan gaji CEO yang amat besar. Dana yang disuntikkan pemerintah digunakan untuk membeli utang dan tambahan modal. Pemerintah menerjunkan FBI untuk memastikan bahwa kerugian yang diderita perusahaan yang hendak diselamatkan itu bukan disebabkan oleh moral hazard para CEO dan profesional. Keguncangan Wall Street bermula dari krisis subprime mortgage loan, yakni kredit pemilikan rumah (KPR) kepada para debitor menengah bawah yang hidupnya sangat bergantung pada pendapatan tetap yang pas-pasan. Ketika inflasi membengkak, mereka tidak bisa lagi mampu membayar bunga dan cicilan pokok. Situasi yang sudah dimulai sejak sekitar lima tahun silam itu akhirnya meledak pertengahan 2007. Nilai surat berharga dengan underlying asset subprime mortgage merosot tajam, sehingga tidak bisa dijual pada harga wajar. Dalam kenyataan, nilai pasar yang wajar sulit diketahui karena banyak dan bervariasinya derivasi dari surat berharga dengan basis subprime mortgage. Total kerugian investasi di subprime mortgage mencapai lebih dari US$ 800 miliar, bahkan ada yang memperkirakan jauh di atas US$ 1 triliun. Perkiraan bahwa krisis subprime mortgage segera berakhir tidak terbukti. Satu demi satu, perusahaan finansial mengumumkan kerugian akibat investasi di berbagai derivasi subprime mortgage yang bernilai triliunan dolar AS. Ketika harga subprime mortgage ambruk, utang melonjak tajam, jauh melebihi aset. Kerugian itulah yang kini harus ditolong oleh semua pembayar pajak, termasuk mereka yang selama ini tergolong hidup susah. Sekitar lima tahun terakhir, ekonomi AS sesungguhnya tidak lagi sehat. Daya beli masyarakat menengah bawah relatif tetap, bahkan sebagian mengalami penurunan.

Pemerintah vs Pasar Bebas Runtuhnya Tembok Berlin, 9 November 1989 melahirkan sebuah era baru sistem ekonomi. Sistem ekonom terpusat atau sistem ekonomi komando yang diterapkan negara komunis atau negara totaliter tak lagi laku dijual. Dua tahun kemudian, 1991, glasnost dan perestroika merobohkan Uni Soviet. Negara yang juga menerapkan sistem ekonomi komando ini pun hancur berkeping-keping. Pendukung ekonomi terpusat lainnya, RRT, sudah mulai membuka diri terhadap sistem ekonomi pasar bebas sejak 1978. Di bawah PM Deng Xiao Ping, RRT membuka diri terhadap modal asing. Ekonomi RRT bertumbuh bagus meski pemerintahannya masih menggunakan sistem komunis. Dengan laju pertumbuhan ekonomi sekitar 9-10% selama lebih dari sepuluh tahun terakhir, RRT hendak menunjukkan kepada dunia bahwa system ekonomi sosialis juga bisa memakmurkan rakyat. Setelah rontoknya ekonomi terpusat, kini tinggal dua sistem yang menjadi acuan, yaitu ekonomi liberal yang menjunjung free market economy dan sistem ekonomi yang mendukung pentingnya peran pemerintah. Para pendukung ideologi pasar bebas menghendaki minimnya peran pemerintah dalam ekonomi. Semakin minim peran pemerintah semakin bagus bagi kemajuan ekonomi. Ideologi pasar bebas kembali mencuat sejak era 1960-an, antara lain, lewat ekonom sangat berpengaruh, Milton Friedman. Bersama Chicago University, tempat ia mengabdikan diri, Friedman adalah ekonom yang membumikan teori ekonomi pasar. Lewat karya berjudul Monetary History of United States, 1867-1960 yang ditulis bersama Anna Schwartz, 1963, Milton berkesimpulan, Great Depression 1929 bukanlah kesalahan ekonomi pasar, melainkan kesalahan kebijakan moneter Federal Reserve Board.

Andaikan peraih Nobel Ekonomi 1976 itu masih hidup, kita akan bertanya, kehancuran Wall Street saat ini akibat kesalahan ekonomi pasar ataukah kebijakan pemerintah? Di tangan Friedman, ekonomi pasar bebas keluar dari menara gading dan digandrungi para mahasiswa ekonomi. Dalam buku Capitalism and Freedom, ia menekankan pentingnya kebebasan individu dalam meningkatkan kesejahteraan. Dalam buku yang sama, Friedman menjelaskan tentang pentingnya free float exchange rate (nilai tukar mengambang bebas), sisi negatif dari pajak penghasilan, dan sebagainya. Karya Friedman yang masuk kategori best seller nonfiksi adalah Free to Choose, 1980. Ia menegaskan, ekonomi pasar bebas sangat penting bagi masyarakat berdaulat. Dengan memberikan kebebasan setiap individu untuk memiliki sumber daya produksi dan jika pemerintah tidak ikut campur tangan secara langsung dalam kegiatan ekonomi, partisipasi masyarakat dalam perekonomian akan meningkat. Kondisi itu juga akan menumbuhkan semangat dan kreativitas masyarakat untuk menghasilkan produk bermutu. Ekonomi pasar bebas akan memunculkan persaingan untuk menyajikan yang terbaik dan itu semua akan menguntungkan konsumen. Motif mencari keuntungan akan memaksa para pelaku meningkatkan efisiensi, sehingga konsumen akan mendapatkan barang dan jasa bermutu dengan tingkat harga lebih wajar. Ekonomi pasar bebas kemudian mendapat label neoliberalisme sejak lahirnya Konsensus Washington. Menurut konsensus yang dilahirkan oleh ekonom Bank Dunia, IMF, dan AS untuk mengatasi krisis ekonomi di Amerika Latin itu, ekonomi, antara lain harus didorong oleh surplus anggaran belanja, liberalisasi finansial, liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi, deregulasi, dan privatisasi. Resep ini tidak cocok bagi semua negara. Buktinya, banyak negara yang justru semakin bangkrut. Manakah sistem ekonomi yang cocok? Rasanya, sistem ekonomi yang ekstrem pasar bebas dan ekstrem intervensi pemerintah tidak laku. Friedman dalam Capitalism and Freedom menyatakan, free market sama sekali tidak mengeliminasi peran pemerintah. Peran pemerintah sangat penting dalam menciptakan aturan main dan wasit yang adil bagi semua pelaku. Sejarah AS memperlihatkan begitu banyak intervensi pemerintah untuk menyelamatkan ekonomi. Usai twin tower WTC dihancurkan 2001, Pemerintah AS juga mengguyur dana ke pasar modal dan pasar uang untuk meningkatkan likuiditas pasar. Investor termashur, George Soros, dalam buku terbarunya, The New Paradigm for Financial Market mengakui, pasar bebas telah gagal. Ideologi pasar bebas bahwa mekanisme pasar akan mengoreksi kesalahannya sendiri, tidak terbukti dalam kenyataan. Kegagalan pasar bebas sama sekali tidak berarti pasar bebas tidak lagi diperlukan. Pasar bebas harus diterapkan, tapi ruang bagi pemerintah harus tetap ada agar pasar berjalan tertib, fair, dan tidak distortif.

Oleh : Didit Majalolo - Wim Tangkilisan. SP Daily